background images light

Inilah Pandangan Ulama Mengenai Bayi Tabung dalam Islam

Agustus 4, 2022
Share
Inilah Pandangan Ulama Mengenai Bayi Tabung dalam Islam

Dalam setiap pernikahan, tentu salah satu hal yang paling diinginkan adalah hadirnya keturunan. Namun, tidak selalu berjalan dengan mulus. Beberapa orang yang lama tak mendapat momongan, melakukan berbagai usaha salah satunya dengan bayi tabung. Namun sebagai muslim, sebelum memutuskan buat bayi tabung, ada baiknya memahami tentang pandangan bayi tabung dalam islam, sebagaimana yang dijelaskan berikut ini:

bayi tabung dalam islam

1. Bayi Tabung yang Dipandang Haram

Bayi tabung dalam islam yang dipandang haram yakni ketika melibatkan orang lain, bukan semata berasal dari pasangan suami istri dalam pernikahan yang sah. Sehingga praktek itu secara tidak langsung bisa dikatakan zina, itulah sebab keharamannya. Bahkan, dalam sebuah pertemuan diskusi para ulama pada tahun 1983 silam, telah menetapkan ketentuan hukum mengenai masalah terkait bayi tabung ini.

Dalam diskusi itu, terbentuklah keputusan bahwa praktik kedokteran ini hukumnya diperbolehkan secara syar’i jikalau dilakukan oleh suami serta istri yang masih memiliki jalinan pernikahan yang sah. Dengan begitu, dapat ditentukan bila tidak ada andil dari nasab yang lain.

Kendati demikian, para ulama akhirnya mengambil keputusan bahwa hukum bayi tabung merupakan haram. Dikatakan haram apabila ada pihak ketiga yang turut serta dalam menyumbangkan sel telur, mani, bakal anak ataupun juga rahim.

2. Larangan Praktek Bayi Tabung dalam Masa Iddah

Ketika inseminasi akan dilakukan setelah meninggalnya suami, dalam artian istri tengah menjalani masa iddah, beberapa pandangan ulama mengharamkannya. Hal ini, lantaran suami yang memiliki mani telah meninggal sehingga jalinan pernikahan pun telah berakhir.

Baca juga   6 Hadits Shahih Tentang Puasa Ramadhan Beserta Keutamaannya

Begitulah alasan atas larangan proses inseminasi dilakukan ketika suami telah meninggal. Keputusan itu pula telah disetujui oleh para ulama MUI dalam fatwanya. Larangan ini ditetapkan supaya tidak memunculkan masalah dan fitnah.

3. Bayi Tabung yang Diperbolehkan

Adanya praktik kedokteran bayi tabung memang inovasi modern yang menjawab keresahan pasangan yang susah mendapatkan keturunan. Dalam hal ini memang diberi penekanan pada pria dan wanita yang terjalin pada pernikahan. Kendati diperbolehkan, hal ini pun tak lepas dari ketentuan atau syarat yang harus dipenuhi. Program bayi tabung ini haruslah dilakukan atas persetujuan dua belah pihak yakni suami dan istri.

Proses inseminasinya haruslah dilaksanakan ketika pasangan dalam status pernikahan yang sah. Memilih melakukan bayi tabung lantaran darurat dan tidak mampu mengandung. Praktek bayi tabung haruslah dilakukan oleh dokter ahlinya yang sudah berpengalaman. Dalam hal ini, aurat wanita hanya diperbolehkan buka pada bagian dan kondisi yang darurat.

4. Memilih Kelamin Bayi sesuai Keinginan Tidak Bisa Sembarangan

Memanglah dalam proses bayi tabung ini pihak orang tua bisa membuat tipe kelamin yang inginkan. Kendati demikian, hal ini memiliki ketentuan dan hal yang seharusnya tidak boleh dilanggar. Mampu memilih jenis kelamin anak, tentu seolah telah melampaui takdir Tuhan dan mampu menulis takdir sendiri.

Tetapi hal-hal seperti ini tentu sangat dijaga supaya tidak disalah gunakan. Pemilihan kelamin ini hanya diperbolehkan ketika pihak orang tua mengidap penyakit turunan yang dikhawatirkan berisiko tinggi pada jenis kelamin tertentu. Sehingga pemilihan kelamin dilakukan supaya meminimalisir risiko penyakit tersebut.

5. Haramnya Air Mani yang Dikeluarkan dengan Tidak Benar

Proses pengeluaran air mani pun dapat mempengaruhi pandangan hukum bayi tabung. Ketika air mani keluar melalui metode yang tidak benar, maka haramlah bayi tabung itu. Dalam aturannya air mani haruslah dikeluarkan melalui metode yang syar’i.

Baca juga   Inilah Cara Mengusir Kuntilanak Menurut Islam yang Paling Ampuh

Pada kitab Kifayatul Akhyar, dijelaskan bahwa seandainya seseorang lelaki berupaya menghasilkan spermanya dengan cara beronani atas bantuan istrinya. Jadi dalam proses ini diperbolehkan dalam Islam.

Demikian pandangan bayi tabung dalam islam yang sebaiknya diketahui sebelum melakukannya. Bila melakukan bayi tabung dengan cara-cara yang tidak melanggar syar’i, maka akan membuat hidup jauh lebih berkah dan terhindar dari musibah.

Artikel Lainnya

Artikel Lain yang mungkin anda suka...