background images light

Adakah Kepastian Hukum Menunda Malam Pertama dalam Islam? Inilah Penjelasannya

November 26, 2022
Share
Adakah Kepastian Hukum Menunda Malam Pertama dalam Islam? Inilah Penjelasannya

Berkenaan dengan hukum menunda malam pertama dalam Islam, sejatinya tidak diatur secara khusus. Namun memang sempat disinggung dalam beberapa hadist. Diceritakan juga bahwa Rasulullah SAW menikah dengan Aisyah ra, saat Aisyah masih berusia tujuh tahun. Baru ketika Aisyah, berusia sembilan tahun itu Nabi bersama dengan istri tercintanya Aisyah.

Ini artinya, Nabi Muhammad SAW juga tidak langsung bersama sang istri setelah akad nikah, namun menunda hingga usia sang istri sudah terpenuhi. Sebagai seorang muslim, pantang melakukan hubungan intim di luar nikah. Namun, dihalalkan bagi yang telah baligh untuk menikah dan berhubungan intim. Berikut beberapa poin penting mengenai hukum berhubungan suami istri yang perlu diketahui, antara lain:

hukum menunda malam pertama dalam islam

1. Hubungan Suami Istri Bagian dari Kehidupan Sehat dan Halal

Tidak dipungkiri jika Tuhan telah menciptakan manusia dengan hawa nafsu. Jadi, istri yang melayani suaminya itu hukumnya wajib. Tapi harus dilakukan dengan benar dan berdasarkan syariat. Islam sendiri memberikan tata cara yang juga disunahkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam kehidupannya. Berhubungan dengan istri maupun suami secara halal juga mendatangkan pahala, apabila dilakukan dengan cara yang baik.

2. Intim Tidak Harus Dilakukan Pada Malam Pertama

Hal lain yang juga harus digaris bawahi dan juga sebagai pengetahuan yakni hubungan suami istri tidak harus atau wajib dilakukan setelah akad nikah. Hal ini memang wajar, karena setiap manusia memiliki hawa nafsu yang berbeda. Ada yang mampu menahan ada pula yang berhasrat besar.

Baca juga   5 Adab Pergaulan Dalam Islam yang Wajib Diketahui

Namun pada dasarnya hubungan intim bisa dilakukan kapan saja selama istri tidak dalam keadaan haid atau tidak mampu melayani suami karena hal lain, seperti sakit. Seharusnya, di malam pertama kedua mempelai dihabiskan untuk menjalin keakraban satu dengan lainya. Sebab tidak jarang para pengantin justru tertidur karena terlalu lelah dengan prosesi pernikahan.

3. Melakukan Hubungan intim Dapat Ditunda, Apabila Istri Pendarahan

Hukum menunda malam pertama dalam Islam dapat dilakukan jika istri mengalami pendarahan hebat itu diperbolehkan. Pendarahan ini akibat rusaknya selaput dara. Selaput dara merupakan bagian dalam dari vagina. Setiap wanita memiliki bagian ini namun memiliki jumlah jaringan yang cenderung berbeda.

Itulah sebabnya mengapa pendarahan setiap wanita yang terjadi di malam pertama pernikahan tidak sama. Bahkan tidak jarang pula ada wanita yang tidak mengalami pendarahan meski dirinya masih perawan. Jangan pernah memprioritaskan hal ini sebagai indikasi bahwa wanita itu sudah tidak perawan.

4. Perlakukan Istri dengan Baik, Jangan Sampai Terluka

Meski tidak ada hukum pasti, namun agama Islam selalu mengajarkan kebaikan dalam setiap komponen kehidupan. Begitupun mengenai hubungan suami istri. Selayaknya seorang suami selalu memperlakukan istri dengan sebaik-baiknya.

Begitu pula seorang istri juga harus mampu melayani suami dengan baik. Dalam adab berhubungan intim, kedua  belah pihak harus sama-sama merasa senang dan saling melengkapi. Jangan memaksa seorang istri atau suami agar keharmonisan tetap terjaga.

5. Menunda Malam Pertama dengan Kesepakatan Kedua Belah Pihak

Dalam Islam menunda malam pertama diperbolehkan asal kedua belah pihak bersepakat hingga batas waktu yang ditentukan keduanya. Hal ini juga berdasar pada hadits ketika Nabi menikahi Aisyah ra.  Meski tidak ada acuan baku, namun setiap tingkah laku Rasulullah SAW adalah patut dijadikan sebagai panutan.

Baca juga   Mengenal Puasa 40 Hari untuk Hajat yang Diperbolehkan dalam Islam

Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan, maka dapat diartikan jika hukum menunda malam pertama dalam Islam sejatinya tidak ada acuan pasti boleh atau tidaknya. Jadi, berhubungan suami istri ini dapat diputuskan apabila keduanya memiliki kesepakatan yang baik dan tidak saling merugikan.

Artikel Lainnya

Artikel Lain yang mungkin anda suka...