background images light

Kenali 5 Ketentuan Kredit yang Halal dalam Islam Sebelum Mengajukan Kredit

September 15, 2022
Share
Kenali 5 Ketentuan Kredit yang Halal dalam Islam Sebelum Mengajukan Kredit

Pembelian suatu barang atau jasa bisa dilakukan secara cash maupun kredit. Cash yaitu tunai atau lunas. Sedangkan kredit yaitu  pembayarannya dilakukan secara mengangsur. Saat ini jual beli dengan kredit sedang banyak terjadi. Adapun pandangan mengenai kredit yang halal dalam Islam dan bisa mendatangkan kebaikan untuk kedua belah pihak. Berikut ini beberapa pandangan kredit yang halal menurut islam dan diperbolehkan, antara lain:

kredit yang halal dalam islam

1. Ada Perjanjian Tertulis Saat Kredit Berlangsung

Dalam surat Al Baqarah ayat 282, Allah memperbolehkan transaksi menggunakan cara hutang atau kredit. Namun ada aturannya yaitu pihak pembeli maupun penjual harus menuliskan perjanjiannya secara tertulis. Jadi tidak halal apabila mengajukan kredit hanya melalui omongan saja.

Perjanjian secara tertulis memang sangat diperlukan karena pertama ingatan manusia memiliki keterbatasan. Jadi dengan adanya perjanjian yang tertulis, bisa membantu pihak pembeli maupun penjual dalam mengingat. Kedua, lembar perjanjian kredit tersebut bisa dijadikan sebagai alat bukti adanya kesepakatan antara pihak pembeli yang mengajukan kredit dengan pihak penjual barang/jasa.

2. Saksi Jelas Bagi yang Melanggar Ketentuan

Dalam firman Allah SWT mengenai kredit yang halal dalam islam juga dijelaskan bahwa boleh melakukan transaksi secara kredit, apabila ada saksinya. Jadi pada saat pembentukan perjanjian secara tertulis, juga harus ada saksinya. Pada surat Al Baqarah ayat 282 dijelaskan bahwa saksinya yaitu harus dua orang laki-laki. Jika tidak ada dua orang laki-laki maka harus ada minimal satu orang laki-laki dan dua orang perempuan.

Baca juga   Berikut Ini 5 Ayat dan Surat Untuk Mengusir Setan dan Jin

Saksi ini sangat diperlukan karena apabila kedepannya nanti ada persengketaan antara pihak pembeli yang mengajukan kredit dengan pihak penjual, maka pihak saksi bisa memberikan kesaksiannya untuk membantu proses persidangan. Sayangnya, pada zaman sekarang ini keterlibatan saksi pada saat pengajuan kredit seringkali dihilangkan.

3. Kredit Diperbolehkan Jika Akadnya Jelas

Beberapa hal yang harus dipertimbangkan saat pengajuan kredit yang pertama, harus disepakati harga suatu barang/jasanya. Harga pembelian secara tunai dengan kredit terkadang memiliki perbedaan, dan seringkali harga kredit bisa lebih mahal daripada harga tunai. Hal ini harus disepakati oleh pihak pembeli maupun penjual supaya tidak ada yang dirugikan.

Kedua, batas waktu pembayaran. Hal ini penting karena dalam transaksi kredit, pembeli akan mengangsur pembayarannya sampai batas waktu yang ditentukan. Dalam penetapan batas waktu ini, harus ada akad yang jelas sampai berapa lama waktu pembayarannya dan apakah ada sanksinya jika terlambat membayar. Hal ini harus dibicarakan dan disepakati bersama.

4. Tidak Mengandung Riba Selama Proses Kredit

Riba diartikan sebagai tambahan atau bunga dalam transaksi kredit. Contohnya saja, pada saat pembelian motor, harga yang ditetapkan yaitu 30 juta. Namun jika menggunakan sistem kredit maka pembeli bisa membayar tiap bulan hingga batas waktu 4 tahun.

Total pembayaran apabila dilakukan secara kredit misal bisa mencapai 50 juta. Selisih 20 juta tersebut dianggap riba oleh para ulama. Sedangkan Hukum riba sendiri memang diharamkan dalam Al Quran.

5. Kredit Diperbolehkan Jika Sesuai Kapasitas

Sebenarnya membeli karena gengsi atau ingin ikut-ikutan  orang lain yang membeli barang tersebut tanpa mempertimbangkan sisi kegunaan itu tak baik. Hal ini karena membeli secara kredit berarti ada tanggungan tiap bulan untuk mencicil dan melunasi hutangnya. Lebih baik jangan melakukan kredit untuk pembelian barang-barang yang tidak dibutuhkan.

Baca juga   Bacaan Doa Kesembuhan Penyakit dalam Islam yang Perlu Diketahui

Nabung saja dulu dan jika uangnya sudah terkumpul maka bisa membelinya. Kredit yang halal dalam islam yaitu yang sesuai dengan kapasitas. Artinya, jangan melakukan kredit apabila tidak mampu membayar tagihan per bulannya. Dalam perencanaan keuangan, persentase hutang yang baik yaitu tidak melebihi 30 persen dari total pendapatan per bulan.

Demikian 5 ketentuan kredit yang halal dalam Islam dan bisa menjadi pertimbangan sebelum mengajukan kredit. Hal yang perlu diingat yaitu jangan lakukan kredit ,jika tidak memiliki kapasitas untuk membayar tagihan bulanannya. Lebih baik menabung terlebih dahulu, jika sudah terkumpul baru bisa membeli barang yang diinginkan.

 

Artikel Lainnya

Artikel Lain yang mungkin anda suka...